Langsung ke konten utama

Postingan

duka sastra

Kita nggak akan pernah tau kapan yang namanya ajal akan menjemput kita. Entah dimana, kapan dan bagaimana kondisi kita ketika Sang Pencabut Nyawa datang. Kita manusia hanya di tugaskan untuk membekali diri, bekal yang akan di bawa ketikasang maut datang. Siapa sih yang mau pergi cepat disaat sedang di anggap? Siapa sih yang mau cepat menghadapi kematian ketika mimpi itu di depan mata. Setiapmahluk yang bernyawa itu pasti akan menemui namanya kematian. Kesedihan akan menghantui pihak yang di tinggal karena kehilangan salah satu belahan tawa mereka, sedih itu di rasakan sobat karib, kehilangan salah satu sumber pengaduannya. Ya, itulah yang terjadi pada senior gue Randi Sanli, yang meninggalkan kami dan pergi menemui sang Pencipta, kemarin pada tanggal 20 Juni 2013. Beliau merupakan senoir gue. Kenapa gue menggunakan beliau? Karena dia adalah salah satu orang yang gue hargai dan hormati dalam proses pembelajaran gue dalam dunia kepenulisan dan teater. Beberapa ...

gempa sya la la ...

Gempa merupakan pergeseran lapisan atau lempengan yang berada di dasar bumi   yang terjadi dalam periode tertentu. Itulah potongan pelajaran geografi yang masih gue ingat sampai sekarang. Kenapa tidak coba? Gue tinggal di daerah yang termasuk dalam list favorit gempa. PADANG! Kalau nggak gempa, nggak Padang namanya. Bahkan gempa telah menjadi tradisi yang turun temurun di masyarakat Padang. Mereka tidak akan terganggu dengan bergoyangnya tanah. Ya, paling mereka berhamburan keluar rumah sambil teriak GEMPA........! Hehehe! Terus di luar Aril Noah telah menunggu sambil berkata ‘’KALIAN SEMUA LUAR BIASA?’’ Zzz! Tragis. Ini serius loh, palingan yang merasa sedikit terguncang adalah para pendatang dari luar kota Padang dan di luar Sumbar. Bisa gue pastikan, mereka akan pikiir beberapa kali untuk kembali ke Padang. Hehehe! Ya, saking takutnya. Masih terbayang dalam ingatan gue kejadian beberapa tahun lalu ketika gempa besar melanda Sumatra Barat dan sekitarnya....

piaraan adek adek gue

Nah, kemarin gua udah cerita bagaimana gue dan peliharaan gue. Ternyata adek-adek gue juga nggak kalah dalam memelihara hewan. Kita mulai dari Ajis. Ajis memelihara dan menjaga   Eeng, karena gue disibukan dengan kegiatan untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Eeng semakin hari semakin cantik, dan banyak para kucing jantan datang kerumah. Dan tidak jauh beda dengan ibunya, dia hamil di tinggal pacarnya, sehingga Ajislah yang berperan sebagai bapak disini. Memang lelaki yang bertanggung jawab. Lho? Eeng generasi   dua pun melahirkan, 2 ekorpun bertambah. Sepasang lagi, dan Ajis senang sekali karena dia mendapatkan anak yang telah dia jaga bersama Eeng selama ini. ‘’ini bapak nak, ini bapak!,’’ oh sungguh keluarga yang sangat harmonis dan bahagia. Lalu Mama melihat anak Ajis dan Eeng. ‘’wah lucu lucu lucu,’’ itulah kata Mama yang keluar untuk anaknya Eeng. Ternyata selama ini tanpa kita ketahui Bujang Lalok menyukai Eeng, selama ini dia tidak mengukapkan pera...