Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label patah

Dari Jumat ke Jumat: Patah (6)

Malam Kamis menuju Jumat. Kamu akan berulang tahun, aku sudah merangkai pesan ucapan untukmu. Ku kirim pesan doa ulang tahunmu, kau balas sekedarnya. Iya aku paham aku marah, aku sangat mengerti bahwa aku bukanlah laki-laki yang kau tunggu lagi. Aku bukanlah laki-laki yang mengusap kepalamu saat kau cemberut. Ku coba lagi ingat momen ulang tahun mu di tahun awal kau menjadi wanitaku. Kita bertengkar hebat di hari itu. Aku sudah menyiapkan hadiah spesial yang pasti kamu akan suka. Malam itu, aku di depan kosan kamu. Tidak sabar melihat wajah bundarmu yang kemerahan saat malu. Tidak sabar melihat bibir tebal dan hidung mancung itu tiba dihadapanku. Aku sangat rindu. Masih marah wajahmu saat itu, namun aku tidak bisa marah balik kepadamu. Mana mungkin aku memarahi wanita cantik yang memberi warna baru di hidupku? "Ini untukmu. Selamat ulang tahun sayang," ku serahkan kepadamu kado yang pasti kamu suka. Aku tahu, kamu saat itu sangat senang, namun kamu malu karena ...

Dari Jumat ke Jumat: Patah (5)

Kamu dimana? Udah makan? Ayuk telfonan, aku bosan nih. Semenjak malam itu, tidak ada lagi rengekan manjamu yang menahan lapar. Kamu ingin turunkan berat badan, tapi tetap menyeduh Pop Mie di tengah malam. Tidak ada lagi chat manjamu, tidak ada lagi teror telfon di subuh yang membangunkan aku. Tidak ada lagi yang mengomentari baju aku hari ini. Kamu dimana? Berhari-hari aku dalam keraguan. Haruskah aku menghubungimu? Marahkah kamu? Atau kamu juga menunggu telfonku? Sungguh kekasihku, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Bahkan kata maaf saja tidak terlintas dipikiranku. Apakah ini pertanda? Minggu siang, ponselku berbunyi. Ternyata pesan dari kamu yang menanyakan kabarku. Aku senang dan ku balas dengan segera. Dan percakapan hari itu tidak ada ujung, kau menangis marah kepadaku. Aku hanya diam. Selamat Tahun Baru! Tahun ini sungguh kosong. Bila aku ingat lagi ambisi-ambisimu yang lalu, membuat aku menjadi tidak ada di matamu. Kenapa aku merasa seperti i...

Dari Jumat ke Jumat: Patah (4)

Apapun yang kamu lakukan, aku semakin jatuh cinta. Kamu tahu, dulu aku benci makanan manis, apalagi es krim. Namun karena kamu suka itu, aku pun mencoba menyukainya. Kamu punya kebiasaan jelek. Kamu suka bicara saat sedang mengunyah. Bibirmu dan pipimu sering bertaburan makanan dan es krim. Namun, kenapa kau cantik saat seperti itu? Jemariku akan menuju bibirmu yang lembut. "Makannya yang pelan sayangku," Kamu hanya mengangguk dan mengulang lagi kesalahan yang sama. Betapa menggemaskannya. Pada suatu hari kamu datang marah-marah kepadaku. Di saat itu juga pekerjaanku menumpuk. Kamu melampiaskan marahmu yang tidak terarah kepadaku. Aku meneriaki kamu dengan kata yang tidak sepantasnya. Kamu diam. Kamu menangis. Aku tersentak. Aku memelukmu, mengecup keningmu. Maafkan aku. Jumat terus berlalu dan berganti. Kamu semakin cantik, kamu semakin rewel, dan kamu semakin berambisi. Aku tetap suka. "Dia sudah berubah? Masih asal-asalan bicara?" Ibuku selalu menanyakan bagaim...

Dari Jumat ke Jumat: Patah (3)

Duniaku sebelum ada kamu hanya ada dua warna, hitam dan putih. Berbeda dengan duniamu yang penuh warna. Entah perbuatan baik apa dahulu yang dilakukan nenek moyangku. Atau doa ibuku untuk kebahagiaanku dikabulkan Tuhan kali ini. Kau datang ke duniaku dengan warnamu. Ratusan Jumat kita lewati. Tentu tidak semuanya manis. Kerikil di jalanan kita singkirkan bersama. Kita bersuka cita dan berbahagia. Caramu memelukku, caramu menatapku, caramu bermanja kepadaku menjadikan aku lelaki yang paling beruntung. Kamu mandiri, kamu tegas, kamu punya prinsip, dan satu yang sangat penting kamu menyayangiku. Itu saja sudah cukup, kamu menyayangiku. Aku bukanlah petualang sejati seperti Mapala. Aku juga bukan seniman seperti mahasiswa di fakultas kita. Aku juga bukan kutu buku yang diam di pustaka. Aku hanyalah pria sederhana yang memiliki kamu. Itu saja. Momen pulang kuliah adalah yang ku tunggu-tunggu. Kau akan menghempaskan tasmu ke motorku dan merengek dibelikan es krim. Kau bilang, dosen menyeba...

Dari Jumat ke Jumat: Patah (2)

Siapa gadis bermuka bulat itu? Tahun kedua kuliah. Kita berada di kelas yang berbeda, namun di fakultas yang sama. Aku dengan duniaku, kamu dengan duniamu. Namun dari kejauhan, aku memperhatikanmu. Siang itu, kita tidak sengaja berpapasan di lorong. Masih aku ingat, kau dengan kemeja kotak berwarna merah, berjilbab dongker, dan mengenakan sneakers. Tidak ada sentuhan kosmetik di wajahmu, bahkan bibirmu tanpa polesan pewarna tetap indah. Aku tahu, kamu cantik. Dan kamu tidak perlu semua itu. "Woi, kemana?" Sapa kamu asal-asalan. Aku terkejut. Aku pikir kayu menyapaku, ternyata tidak. Kau menyapa rekan kelasmu yang tepat berada di belakangku. Nyaris saja, untung kau tidak tahu seperti apa harapku jika kau benar menyapaku. Semenjak siang itu, aku semakin merindukan kamu. Orang-orang bilang, kamu adalah gadis aneh dan kasar. Namun bagiku kau adalah gadis yang menarik. Bicaramu yang asal-asalan, terkesan sangat sok akrab, namun itu yang membuat kamu hebat. Kamu tidak pandang bulu...

Dari Jumat ke Jumat: Patah

Sayang, maafkan aku. Entah mengapa kalimat itu sangat sulit ku ucapkan kepadamu. Kau menangis, air matamu mengalir begitu deras dihadapanku. Tapi, lidahku kelu. Hampa. Sangt hampa hatiku saat membayangkan kau berjalan dengan arah yang berbeda dengaku. Sekarang tidak sekedar bayangan, kau benar-benar pergi. Dan aku hanya diam. Apa yang terjadi denganku? Mengapa tanganku tak bisa lagi menggenggam tanganmu yang mungil itu? Kenapa aku tak sanggup menahan jari-jarimu yang selalu bermain di hidungku? Kenapa aku tidak menahan kau pergi? Aku tidak bisa menjawabnya, kekasihku. Masih terngiang di kepalaku kejadian hari itu. Kau menangis sejadi-jadinya setelah memegang ponselku. Aku kaku sayang, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tolong, air matamu jangan kau keluarkan lagi. Aku kehilangan tenaga harus menahan kamu. Jangan menangis, tolong jangan menangis. Kau, menatapku dengan sorotan mata yang tidak pernah kau perlihatkan. Raut wajah yang selalu ku hindari kali ini ada di depanku. Kamu marah, ...