Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cinta

DJKJ: Yang Datang Tiba-tiba (5)

Runtuh semua pertahananku. Runtuh seruntuh-runtuhnya Hati yang ku larang untuk rindu, kembali bergejolak. Sakit, sangat sakit! Malam itu aku tumpahkan semua umpatan yang ada di kepalaku.  Semua binatang yang menjadi tujuan ku lontarkan ke udara. Anjing! Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Sesak! Sangat sesak!   Hatiku serasa dicabik-cabik oleh kenyataan bahwa aku belum bisa lepas dari bayangan dia sedangkan otakku ingin meraih dekapan lain. Tapi hati tidak bisa berbohong otakku tak bisa mengalahkan hati yang terpaut sakit dan waktu. Hati ini terlalu lama dikekang satu bayangan hingga dia untuk berpindah butuh waktu, Ku tarik nafas dalam-dalam dan coba menenangkan hati. Tuhan, aku tak sanggup menahan sakit seperti ini lebih lama! Aku tak ingin membawa orang lain terlibat dalam kekacauan ini.   Aku harus melepas semua ini pergi. Tak terkecuali! Aku ingin hidup tenang Tuhan! Aku ingin hidup tenang! Ku raih ponsel yang baru saja ku hempaskan dengan kasar ke dinding kamarku...

DJKJ: Yang Datang Tiba-tiba

Tuhan, datangkan orang yang tepat di waktu yang tepat Beberapa hari ini ibuku sangat semangat menyuruhku berdoa kepada Tuhan. Selain memohon ampun, dia juga menyuruhku meminta kepada Tuhan segera diberi kemudahan untuk membuka hati pada seseorang. Sepertinya ibuku sudah lelah mendengar aku berkeluh kesah dan ditelfon setiap malam. "Kamu jangan acuh seperti ini. Minta kepada Tuhan didatangkan jodoh," "Ah, nanti sajalah Ma. Ngapain buru-buru. Santai dulu lah," itu yang selalu kukatakan setiap ibuku menyuruh berdoa setiap saat. "Kamu pikir berdoa kepada Tuhan seperti minta uang sama Mama? Langsung dikasih? Enggak! Kamu minta mulai sekarang, dikasihnya kapan ya itu urusan Tuhan," ibuku makin cerewet. "Ya ampun Ma. Sabar kenapa, aku belum mau punya jodoh. Nanti saja ya," lalu ku alihkan topik pembicaraan ke hal yang lain. Tapi sepertinya ibuku sudah lelah dengan segala trik peralihan topik pembicaraanku. Beliau marah dan segera mematikan telefon. Ya a...

DJKJ: Sebuah awal

Tak mudah ternyata lepas dari kisah yang lalu. Begitu melangkah, bayangan itu masih mengiringi. Kapan lepas? Kembali lagi ke waktu. Malam ini begitu hangat. Langit begitu terang dengan lampu bangunan berkelap-kelip tidak karuan. Sunyi namun menenangkan. Memang, atap adalah tempat terbaik menikmati malam. Kutarik nafas dalam-dalam dan perlahan melepaskan. Sudah saatnya bukan? Wahai... Teruntuk pria yang pernah datang, mengisi dan mewarnai ratusan Jumat, ku ucapkan terimakasih. Mari kita berbahagia, mari kita pilih jalan yang kita putuskan. Jalan yang kita sepakati dan jalani semua ini dengan indah. Terimakasih telah datang di tepat waktu. Terimakasih membawa tangis dan duka yang bisa kita tertawakan nanti. Terimakasih telah membawa begitu banyak kisah yang bisa kita ulang di suatu masa nanti. Terimakasih untuk jutaan detik setiap malam itu. Terimakasih untuk segala tatapan itu. Terimakasih untuk segala genggaman yang mungkin akan meninggalkan bekas di jemariku. Terimaka...

DJKJ: Panggilan dari Rumah (3)

Beberapa Jumat di Tahun Baru terasa begitu lama dan sesak. Namun perlahan udara segar pun mulai terasa, mentari terasa hangat dan langkah kakiku mulai ringan. Bagaimana kabarmu? Bagaimana hari-harimu, ku doakan bahagia. Tenang saja, aku bahagia dengan caraku. "Hai anak gadisku. Apa kabarmu?" Papaku menanyakan kabar dari seberang sana. "Sehat. Dimana Pa? tumben tetiba nelfon," "Di rumah. Emangnya salah Papa menelfon anak sendiri?" "Hahaha nggak dong. Tadi Papa nelfon adik nggak?" "Ini baru selesai telfonan sama dia," "Gimana?" tanyaku tidak beralamat. Karena Papa pasti tahu ujung pertanyaanku. "Dia menikah akhir tahun ini," "Yaudah, kasih izin saja Pa," "Kamu bagaimana?" "Aku belum ada pikiran untuk itu. Lagian juga belum ada pasangan," kataku tertawa. "Jangna pernah berkata kau tidak ada pikiran untuk itu. Waktu masih panjang, ini masih bulan awal," "Bagaimana lagi, Pa. ...

DJKJ: Panggilan dari Rumah (2)

Kenapa begitu mudah bagi orang-orang untuk berkata semuanya baik-baik saja? Kenapa aku begitu rapuh menghadapi kenyataan tidak seindah impian di diari yang aku tulis di malam itu? Tahun Baru pun datang. Secercah harapan pun kutuliskan dalam catatan impianku. Aku siap! Apakah hariku tenang? Tentu saja tidak, mana ada kesempatan untuk itu? "Jangan lama-lama. Aku sudah siap. Percepatlah!" Kalimat dari saudaraku tentu masih menghujaniku. Tapi persetan dengan itu. Aku tertawa dan bisa lagi tertawa. "Woi, gimana? Enak malam pertamamu?" teriakku dalam panggilan video pada sabahat lamaku. "Yakin kau mau dengar sensasi malamku?" goda kawanku di seberang sana. "Tidak!" Kamipun tertawa. "Aku senang kau sudah mulai tertawa lagi," tetiba sahabatku mengucapkan kalimat yan menhgejutkan itu. "Eh gimana?" "Ya, kau sudah mulai tertawa. Aku senang. Karena lelaki tersenyum yang kau ceritakan itu?" "Mmmm ...entahlah. Aku tidak sad...

DJKJ: Panggilan dari Rumah

Malam ini hujan rintik disertai petir yang menggelegar tidak karuan. Aku yang sedang bermain ponsel terhenyak dan menjatuhkan ponsel tepat di wajahku. Sial, sakit juga ternyata. Tetiba panggilan telefon masuk dan dari saudara laki-lakiku. "Hei apa kabar? Jangan kau pikirkan lagi masalah yang lalu. Ayo mencari!" ujarnya dari seberang sana. "Inginku seperti itu. Tapi mungkin butuh waktu, sabarlah. Kenapa? Kau ingin melangkahiku?" "Seperti yang aku bicarakan sebelumnya Kak, aku sudah siap bersama pasanganku," "Serius berarti apa yang kau bicarakan?" "Iya. Aku siap. Tapi orang tua kita melarangku dan tidak memberi izin. Mereka tidak ingin kau kulangkahi. Pamali," "Yakin kau mau menikah?" "Ya. Aku yakin. Bisa kamu percepat diri kak?" "Jangan kau paksa aku. Aku akan menikah jika aku mau dan aku siap. Aku tak butuh alasan orang lain dan jangan pernah memaksaku. Nanti aku bicara dengan ibu," tu...

DJKJ: Rindu (4)

Sekali lagi aku bertanya kepadamu. Masih bisakah? Pertanyaan itu lagi dan itu lagi. Puluhan mulut menanyakan hal itu, masih bisa? Masih bisakah? Bahkan kamu juga menanyakan hal itu kepadaku. Mungkin lebih tepatnya masih sanggupkah kita? Ahh.. padahal aku sudah meminta kepada Tuhan untuk tidak terlibat urusan perasaan lagi sementara waktu. Aku meminta kepada Tuhan untuk tenang-tenang saja di tahun ini. Sepertinya doaku belum sampai. "Aku ingin bertanya kepadamu. Maukah kau serius? Jika iya kita maju satu langkah setelah ini," ucapmu di suatu sore Kalimat indah, idaman semua wanita. Kalimat yang paling ditunggu dalam sebuah hubungan insan manusia. Kalimat yang membuat hati wanita berbunga-bunga. Namun bodohnya aku di saat itu adaalh tak ada keyakinan untuk menjawab. Aku bingung menjawab dengan kalimat bagus. Dan aku hanya tersenyum. -- Baik. Kita tidak bisa berlama-lama dalam kondisi ini. Bukankah kita sudah sepakat untuk melangkah? Kita sepakat untuk bersikap puluhan Jumat i...

DJKJ: Rindu (3)

Terkadang aku mengenang masa-masa di mana mula tanganmu menggenggam tanganku. Malu tapi mau. Saat itu tetes hujan berangsur turun. Aku berboncengan denganmu dan tanganku terdiam di tas yang memisahkan jarak punggungmu ke tubuhku. Aku terpaku diam saat kau mengoceh tentang hari ini yang mendung. "Kamu kenapa diam saja?" "Kamu lagi bicara. Aku ingin mendengarkan lebih lama lagi," jawabku sekenanya. "Tanganmu mana?" "Ini sedang memegang tas," "Kemarikan tasmu. Biar ku sandang," kamu mun menepi dan menghentikan motormu dan menyandangkan tasku ke dadamu. Perjalananmu kembali dilanjutkan dan kau berceloteh tentang hujan sore ini. "Hallo.. Kamu masih bersamaku?" "Iya. Aku masih bersamamu. Mendengarkan celotehmu yang tak kunjung henti itu," jawabku dengan tawa. "Tangan kamu mana?" "Tepat dibelakangmu," ujarku sembari mengangkat kedua belah tanganku. "Boleh aku pinjam sebentar tanganmu? " kem...

DJKJ: Rindu (2)

Rindu langkah kaki yang berselonjak di setiap Jumat malam menuju peraduan. Rindu menunggu jam 9 malam untuk mendengar suara pengantar tidur yang selalu kudengarkan di ratusan Jumat. Sekarang tidak ada lagi. Kosong, sangat kosong. Otakku seperti terjatuh di lantai dan pecah berkeping-keping. Tujuan hidupku seperti sirna begitu saja setelah melangkah. Ku hela nafas dalam-dalam. Sebenarnya apa yang aku inginkan? Kebebasan seperti apa yang aku harapkan? Teruntuk Lelaki dengan senyuman yang puluhan Jumat lalu ku lihat. Apa kabar? Kenapa aku memikirkan senyuman itu disaat seperti in? Aku rindu senyuman itu. Apa kamu masih sibuk dengan duniamu? Tentu saja. Wahai lelaki tersenyum. Apa aku menjadi wanita jahat saat ini memikirkan kamu? Apa aku menjadi wanita yang tidak ada harga diri lagi tetiba aku membayangkan senyuman itu? Wahai pemilik senyuman. Sepertinya aku telah menjadi orang jahat. Merindukan kamu di saat hatiku terluka. Rindu getaran saat pertama berjumpa, rindu di awal aku menunggu...

DJKJ : Rindu

Kau tau apa yang paling sulit dilakukan di dunia ini? Menerima kenyataan. Adapun kenyataan yang harus kuterima adalah kau tidak ada lagi di sisiku. Kita melangkah di jalan yang berbeda dengan membawa kenangan yang tidak ingin kita lepaskan. Kita sepakat di malam itu, di malam kau hanya diam. Di malam kau membiarkan aku menangis sesegukan melepaskan emosi yang kau bilang hanya sesaat. Di malam kau tidak berkata apa-apa, menjelaskan bualan seperti biasa. Kenapa kau tidak bohong saja malam itu? Kenapa kau tidak mencoba berkilah supaya aku tenang sejenak? Namun kau hanya diam. Jumat terus berganti. Aku melangkah dengan gemetar setiap kenangan itu datang. Menghancurkan hari-hari yang sudah kurancang dengan baik. Siang hari ini terik. Sebuah panggilan masuk ke ponselku. Dan itu dari kamu. Aku yang sedang encoba berdamai dengan perasaanku kembali kaca. Namun tetap saja panggilanmu ku angkat. "Hai, apa kabar?" sapamu dengan lembut, nada yang dulu kau gunakan di seti...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (4)

Semenjak hari itu, aku berusaha tidak memikirkan kamu lagi. Semoga kau selalu bahagia, wahai pria yang tersenyum. Hari-hari pun berlalu dengan santai. Kucing kos tidak lagi buang hajat di sepatuku. Dia bergeser tempat ke depan pintu kamarku. Bisa bayangkan, betapa marahnya aku saat menemukan alas kakiku berbau pesing dan berair? Berbulan-bulan sudah, Jumat terus bergilir. Ku disibukan dengan pekerjaan dan kisah romansa yang tidak kunjung selesai. Di suatu malam, saat aku sedang menikmati semangkok mie instant. Sebuah notifikasi DM muncul di ponsel ku. Tapi tidak langsung aku buka. Mana ada manusia yang rela meninggalkan semangkok Indomie telur plus bon cabe level 50 dan segelas es teh manis, bukan? Setelah perutku membundar kekenyangan, ku raihlah ponsel dan lihat beberapa DM masuk. Dan ada salah satu akun komunitas yang tidak ku kenal sama sekali menanyakan keberadaanku. Siapa nih? "Hallo mba. Namaku adalah ini. Aku butuh informasi bla bla bla...." Oh tern...

Dari Jumat ke Jumat (12)

Selamat datang Februari. Tanggal 31 Januari bertepatan dengan hari Jumat. Aku mantap menghubungimu dan mengatakan dengan penuh keberanian, aku siap untuk pergi dan melepas kamu. Aku menangis sesegukan. Aku kira tidak akan ada drama lagi karena ku tahu apa yang dimau. Namun salah, di sinilah titik penentuan apa yang akan kulakukan. Aku hanya sanggup mengirim pesan ke kamu! "Hi, apa kabar?" "Baik" "Aku ingin bilang sesuatu. Kamu ingatkan dulu aku bilang tidak akan membuka hati untuk siapapun, hingga pulang dari seberang?" "Iya" "Sepertinya aku ingin mencabut pernyataan itu. Aku ingin menikmati hidup," "Ya silahkan" "Aku ingin izin dari kamu dan tidak ingin ada rasa bersalah. Makanya aku bilang," "Hahaha. Untuk apa? Terus saja langgar janji kamu," "Ya. Aku capek," "Sama. Aku juga capek. Kamu menemukan penggantiku?" "Tidak. Okey, sepertinya kamu akan menuduhku lagi. Aku hanya ingin ka...

Dari Jumat ke Jumat (11)

Beberapa orang mencoba berkelakar. Mengatakan pepatah lama, kumbang tak satu ekor. Ya benar, tapi ini masalah hati dan tidak butuh banyak kumbang. Kembali sore di Jumat minggu ketiga, aku naik ke atap. Selonjoran di sudut, menikmati sore yang semerawut. Sore sepertinya menunggu aku berkeluh kesah. Baiklah sore. Aku ingin katakan kepadamu, jika aku belum bisa melangkah ke tempat baru. Saat ku coba, aku takut. Apakah di tempat baru aku akan menetap? Sore, tak singkat waktu yang telah kujalani. Tak sedikit memori yang kita rangkum. Ribuan foto telah kita abadikan. Apakah tidak sayang dengan semua itu? Sore, apakah pantas aku menyukai orang lain lagi? Apakah aku bisa membuka hati lagi? Aku berfikir seperti ini, Sore. Aku tidak ingin dikasihani, aku tidak ingin dikendarai, aku ingin merdeka, aku ingin bebas dan aku ingin hati ini berbunga. Sore, dengarkan aku. Dia adalah orang baik. Dia orang yang aku sayangi dan sangat bohong jika tidak ada rasa lagi. Namun, juga tidak ada k...

Dari Jumat ke Jumat (10)

Sudah minggu ketiga saja di tahun ini. Betapa terasa begitu berat? Kenapa aku kehilangan gairah hidup? Enggan hidungku untuk menghirup udara rasanya. Bangun tidur, dengan berat langkah aku persiapkan diriku berangkat kerja. Kosong, otakku terasa kosong. Tak ada yang kupikirkan, kecuali membasuh sisa air mata dan mengusap kelopak yang membengkak. Apa? Kau menuduhku menangis? Iya, aku menangis. Jam tiga dinihari aku kembali terbangun. Aku mengadu kepada Tuhan, sampai mataku bengkak dan tenggorokan terasa serak. Jantungku berdegup sangat kencang, menahan suara tangisku tak terdengar orang. Sangat tidak lucu bukan, jika tengah malam tetiba ada suara tangis disertai tarikan ingus yang kencang? Sangat tidak seksi! Beberapa hari ini, aku membiasakan diri tidak lagi melihat notifikasi di ponsel. Ku sadarkan diri bahwa tidak akan ada sapaan manis di pagi hari untuk membuka siangku. Okey, rutinitasku pagi ini adalah minum segelas susu. Setelah itu mandi dan jangan lupa menyetel radio dengan ge...

Dari Jumat ke Jumat (8)

Semakin sakit. Semakin sakit. Semakin sakit. Ada apa? Kenapa? Kenapa sekarang? Aku takut. Aku sangat ketakutan, sayang. Sangat takut! Seringkali ku ceritakan kepadamu, hal yang paling kutakuti dalam hidup. Kau tahu jelas apa yang ada di otakku dan hatiku. Namun, aku takut dan kau juga takut. Tidak masalah kau merasa takut. Namun sangat bermasalah saat kau enggan ingin tahu. Lantas kita harus apa? Sudah di Jumat kedua di tahun ini. Kita semakin goyah, kita semakin acuh, dan kita lelah. Lelah dengan bualan klasik pereda luka, lelah dengan rutinitas, lelah dengan kerjaan, lelah dengan lingkaran dan kita berputar di dalamnya. Saat kita ingin berhenti berlari, kita tidak menemukan lagi tempat berhenti. Ada pagar duri di peristirahatan kita. Sampai kapan? Sampai kapan? Berlari-lari semua kenangan di otakku, sayang. Dekapan tanganmu yang hangat, bibir lembutmu di pipiku, jari jemarimu yang nakal di hidungku, semuanya. Tapi apa daya kita? Siang ini aku ada di puncak gedung. Menghangatkan kep...

Dari Jumat ke Jumat (7)

Ada celah! Sepertinya ada celah yang bisa disusuki harapan. Itulah yang aku bayangkan setiap pesan kamu masuk ke ponselku. Hari-hari berlalu. Aku tahu dan kamupun tahu, kita sedang berusaha mencoba saling merindu kembali. Sulit, memang sulit. Rutinitas pagiku kembali. Bangun kukirim pesan cintaku, siang pun kau mengingatkan makan siangku, dan malam kita saling menatap di layar ponsel sampai salah satunya mengeluh kantuk. Betapa manisnya keseharianku, bukan? Namun, tatkala malam datang, bergilir datang setiap harinya. Ada bagian hati yang terus terasa hampa? Apa lagi ini? Bukannya aku puas dengan kondisi yang sekarang? Sial! Tak kunjung reda hampa yang bergelut dengan rinduku kepada kamu. Apa karena aku ingin bebas, seperti yang aku bilang kepadamu tahun lalu? Bulan 10 tahun lalu. Aku ingat jika aku ingin bebas. Lelah dengan rutinitas dan ingin melakukan apa yang aku mau. Dipikir lagi, betapa kejamnya aku membuat keinginan tanpa memikirkan keberadaanmu. Ya, itu salahku. Hanya memikirk...

Dari Jumat ke Jumat (6)

Sampai kapan akan bersedih? Pertayaan itu kutulis besar-besar di kertas dan tertempel tegap di dinding kamarku. Sebuah cara untuk menyembuhkan diri dari luka yang diukir sendiri. Satu hal yang tidak pernah dibayangkan, khayalan iseng yang dulu membayangkan kau pergi itu benar-benar terjadi. Lucu, tapi menyadarkan aku untuk tidak macam-macam dengan pikiran. Hari ini tanggal 3 Januari 2020. Jumat perdana di tahun Baru 2020. Minggu awal yang berat. Bukan untuk masalah percintaan saja, tapi semua hal. Kebakaran besar di benua sebelah, ribuan hewan terpangggang. Sedih! Negara seberang juga menghadapi virus yang menjalar ke luar negaranya. Dunia pun was-was. Namun apa dayaku memikirkan orang lain, sedangkan hati ini tidak karuan? Ya Tuhan, biarkanlah minggu pertama ini berjalan dengan kuat. Hanya itu pintaku, kuatlah hati ini! Pukul 10.05 WIB, sebuah notifikasi berbunyi dari ponselku. Namun tak ku tanggapi, ah palingan hanya dari chat grup. Tidak penting. Berlalu sampai siang, ponselku ter...

Dari Jumat ke Jumat (5)

Happy New Years! Kembang api berdentum-dentum di antara rintik hujan deras yang melanda Jakarta. Kutarik lagi selimut, kupejam eratkan lagi mata dan sumbat telingku. Berisik! Hujan semakin deras. Dinding kamarku pun mulai diresapi air dan menetes dengan kencang. Berlari ku keluar kamar kosan, mengambil baju buluk yang biasa kugunakan sebagai pel lantai. Setelah urusan kamar selesai, termenung lagilah aku di pinggir kasur. Sepertinya ini sudah dua minggu berlalu. Namun otakku masih susah lepas dari kebiasaan yang bikin rindu itu. Oke, coba picingkan mata dulu. Siapa tahu dia bisa lupa begitu saja seiring rentetan hujan petir yang menggelegar di pergantian tahun ini. Ya Tuhan! Kenapa tidak semudah yang aku bayangkan? Ku raihlah ponsel yang berada di bawah bantal. Seperti biasa, tidak ada pertanda dari kamu. Sialnya, tanpa sadar ku menunggu notifikasi dari kamu. Iya Kamu! Mengisi malam pergantian tahun, ratusan foto yang kita abadikan menjadi saksi. Perlahan-lahan, satu ku hapus. Satu p...

Dari Jumat ke Jumat (4)

"Sampai kapan kau akan seperti itu? Bayangkan orang-orang di sana menangis karena kelaparan dan kau menangis karena cinta yang sudah tahu tidak ada?" Kalimat seperti itu yang selalu di ulang-ulang oleh sahabatku setiap menelfon dengan isak tangis yang tak reda-reda setiap malam. Gila! Tak pernah sesakit ini dan separah ini. Anjing! Setiap malam, sejak malam itu tak reda isakku. Kutelfon ibuku, kutelfon teman-temanku. Kutanyakan apakah aku begitu bejat hingga sepatah ini? Apakah aku tidak sepantas itu? Setelah dipikirkan begitu dalam, sepertinya ini semua adalah salahku. Mulutku terlalu kasar. Otakku terlalu liar. Mimpiku terlalu jauh. Dan harapku terlalu tinggi. Tapi dimana salahnya? Bukannya semua orang berhak atas itu dan wajib malah melakukan itu? Baiklah. Kutarik nafas dalam-dalam. Kutambah laju treadmill dan lari sekencang-kencangnya. Tetiba lewatlah sepasang kekasih yang ingin berolahraga bersama, saling bergantian memegang botol minuman tatkala sang wanita ingin mema...

Dari Jumat ke Jumat (3)

Bangun pagi. Dasar kebiasaan! Kubuka aplikasi chat dan hampa. Tidak ada lagi chat pengantar tidur yang membuatku terlelap hingga fajar. Kutegakan punggungku dan mengumpat di dalam hati. Dasar kebiasaan! Di ponsel menunjukan masih pukul 3 dini hari. Sial! lagi-lagi hanya tidur 3 jam saja. Kutarik lagi selimut, kupejamkan erat-erat mataku. Tapi tak bisa, kenapa sesubuh ini ada wajahmu di lensa mataku? Sial! Sial! Sial! Anjing! Ada apa denganku? Ada apa? Kenapa? Anjing! Baiklah... Mungkin dengan tidur di lantai, mata bisa mengantuk. Siapa tahu nanti otak ini bisa sibuk beradaptasi dengan dinginnya lantai dan membuat lelah. Coba saja dulu. Ternyata sakit juga tulang punggungku bersentuhan dengan lantai. Hadap kiri, kana tidak ada yang nyaman. Terlentangpun sulit! Ahh.. hanya buang-buang waktu saja. Tak ada yang berubah. Yang ada mataku semakin menyala dan memerah. Badanku seperti full tenaga, padahal ini tubuh sakit-sakitan. Apakah semua orang yang patah hati mengalami ini? Kubuka lagi c...