Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label smiling man

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (6)

Kucing yang pipis di kamarku tidak pernah datang lagi. Sedih, padahal bola-bolanya belum aku sentil. Setiap keluar kosan, ku cari-cari lah si kucing. Kemana dia? Apa sudah menemukan tempat pembuangan hajat yang lebih baik? Setahun berlalu dengan cepat. Tidak terasa aku mulai lupa dengan kamu. Namun tatkala hariku memburuk, foto tersenyummu menjadi obat gundahku. Tidak ada chat. Tapi kamu tidak akan pernah tahu, jika aku menunggu momen yang tepat untuk berkomentar di media sosial mu? Hahaha. Festival outdoor yang selalu ku tunggu-tunggu pun datang. Tidak sabar, karena aku ingin mengenang bagaimana senyummu 2 tahun yang lalu. Benar saja. Kamu akan ke sana, begitu juga dengan aku. Akhirnya, momen penasaran seperti apa dirimu menjadi tujuanku esok. Ratusan orangpun meramaikan kembali acara ini. Aku dejavu, akankah akan kehilangan kesempatan seperti yang lalu-lalu? Akankah pandanganku dihalangi serombongan orang yang datang entah dari mana, lagi? Siang itu, kamu mengenakan ...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (5)

Kita pun bercakap di dunia maya dengan basa-basi. Bertukar informasi kerja dan akun sosial media. Aku senang, serius! Cuma beberapa percakapan saja, kita kehabisan bahan untuk dibicarakan. Konteksnya pun masalah pekerjaan, tidak ada yang lain. Hey pria yang tersenyum, tahukah kamu aku sempat tergila-gila? Betapa ajaibnya perasaan suka. Melihat foto yang kau pasang sebagai profil saja ku sudah senang. Tapi segera ku sadarkan diri. Kita sudah punya romansa dan dunia masing-masing. Aku akan profesional denganmu, ini masalah kerjaan. Aku dan kamu tidak ada lagi berhubungan. Media sosialmu kugunakan sebagai pelepas rindu, jika disuatu masa aku rindu. Namun sayang sekali, tidak ada fotomu yang bisa ku tatap lama-lama. Jumat terus bergilir. Rutinitasku melihat aktivitasmu juga bergulir. Ingin ku menghubungi nomormu, tapi tidak ada gunanya. Tak ada tujuan selain basa-basi yang tidak terarah. Di suatu hari yang cerah, kau membagikan sebuah foto dimana kau memegang sebuah gambar wa...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (4)

Semenjak hari itu, aku berusaha tidak memikirkan kamu lagi. Semoga kau selalu bahagia, wahai pria yang tersenyum. Hari-hari pun berlalu dengan santai. Kucing kos tidak lagi buang hajat di sepatuku. Dia bergeser tempat ke depan pintu kamarku. Bisa bayangkan, betapa marahnya aku saat menemukan alas kakiku berbau pesing dan berair? Berbulan-bulan sudah, Jumat terus bergilir. Ku disibukan dengan pekerjaan dan kisah romansa yang tidak kunjung selesai. Di suatu malam, saat aku sedang menikmati semangkok mie instant. Sebuah notifikasi DM muncul di ponsel ku. Tapi tidak langsung aku buka. Mana ada manusia yang rela meninggalkan semangkok Indomie telur plus bon cabe level 50 dan segelas es teh manis, bukan? Setelah perutku membundar kekenyangan, ku raihlah ponsel dan lihat beberapa DM masuk. Dan ada salah satu akun komunitas yang tidak ku kenal sama sekali menanyakan keberadaanku. Siapa nih? "Hallo mba. Namaku adalah ini. Aku butuh informasi bla bla bla...." Oh tern...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (3)

Hari ini menyebalkan. Kucing yang ku ajak bermain setiap malam, membuang hajatnya di sepatu kesayanganku. Apa masalahmu kucing? Apa? Itu sepatu kesayangan yang selalu aku bangga-banggakan. Yang membuat kakiku terlihat menawan. Sepatu yang selalu mengantarkan aku untuk membeli makanan kucing dan kau berhajat di atasnya? Agght! Dengan wajah dongkol ku lempar ke kamar mandi sepatu hitam kesayangan dan meraih sepatu putih yang berada di dekat pintu. Awas saja kalau aku bertemu itu kucing, akan ku sentil bola-bolanya. Dia kucing jantan. Ting! Ponselku bergetar dan ternyata telfon dari atasanku. " Lo dimana? Sekarang pergi ke sana ya. Seharian elo di sana saja bikin berita," Tetiba aku disuruh liputan ke festival outdoor. Mana kucing nakal itu? Dimana dia? Dengan wajah cemberut aku keluar kosan dan melihat kiri-kanan. Siapa tahu kucing nakal itu sedang rebahan biar aku sentil bola-bolanya. Tapi sepertinya keberuntungan si kucing ini sedang baik. Dia tidak bertemu denganku hari in...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man (2)

Teruntuk pria yang tersenyum. Sampai kapan kau akan membayangi kepalaku? Beberapa hari setelah pertemuan itu, aku mulai melupakan senyuman itu. LEbih tepatnya aku berusaha keras untuk melupakan. Gila! Apakah kamu menggunakan pelet tertentu di bibirmu, hingga aku menjadi seperti ini? Sudah dua kali Jumat. Aku perlahan melupakan senyuman itu dan beraktifits seperti biasa. Telfonan dengan ibuku, debat dengan rekan kerjaku dan bermain dengan kucing di kos-kosan saat malam. Sore ini begitu indah. Langit Jakarta tidak kotor-kotor amat. Langit biru perlahan ditutupi gelap dan matahari perlahan terbenam dibalik gedung-gedung tinggi itu. Indah seperti senyuman kamu. SIAL! Kenapa wajah kamu datang lagi sore itu? Bisa beri waktu untuk aku menikmati sore ini? Pekerjaanku hari ini sungguh berat dan kamu jangan membuatku rindu. Ku coba berjalan-jalan kecil mengelilingi atap gedung. Mungkin orang-orang yang melihatku akan berfikir, mungkin gadis ini kesurupan. Berkali-kali aku memutari atap, sambil...

Dari Jumat ke Jumat: Smiling Man

Di hari itu kamu mengenakan kemeja berwarna coklat susu yang sangat pucat. Dengan sigap tanganmu menegakan tripod dan meletakan kamera yang kau genggam di atasnya. Rambutmu yang panjang kau ikat, tas yang kau sandang dari tadi kau letakan begitu saja di bangku. Kenapa hal sesederhana itu menjadi pemandangan yang indah bagiku?. Di hari itu, ada jumpa media sebuah festival outdoor. Seperti biasa, aku datang, berkenalan dengan sesama dan saling bercengkrama. Kemudian duduk dan menenangkan jiwa raga yang kelelahan menghadapi macet Jakarta. Tapi mengapa di hari itu, aku tidak menyapa kamu? Ah, sayang sekali melewatkanmu. Tapi tidak apa, aku mencoba untuk baik-baik saja dan mari fokus bekerja. Waktu pun berlalu hingga acara hampir selesai. Kau cabut kameramu dan maju ke depan mengambil beberapa gambar. Kau hampiri kemudian temanmu dan kau melemparkan sebuah senyuman kepadanya. Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lihat? Sebuah senyuman yang begitu harmoni di wajah manusia yang Kau ...